Komponen-komponen Persiapan Pengajar
Disusun
Oleh :
Ahmad Sulaeman (12402241005)
Afid Farhan
Ismunandar (12402241021)
Yodhika Nursholeh (12402241027)
Yodhika Nursholeh (12402241027)
Abi Sofyan
Risdiiyantara (12402241045)
Ramadhan Fajar
Taufiq (12402241046)
PENDIDIKAN ADMINISTRASI PERKANTORAN
FAKULTAS EKONOMI
UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA
2014
KATA
PENGANTAR
Puji syukur kami panjatkan
pada kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat, hidayah serta
karunia-Nya kepada kami sehingga kami berhasil menyelesaikan tugas makalah yang
berjudul “Komponen-komponen
Persiapan Pengajar”
tepat pada waktunya.
Makalah ini saya susun untuk
melengkapi tugas mata kuliah Perencanaan Pembelajaran Administrasi Perkantoran.
Kami menyadari bahwa makalah yang kami selesaikan ini masih jauh dari kesempurnaan.
Seperti halnya pepatah “tak ada gading yang tak retak”, oleh karena itu kami
mengharapkan kritik dan saran dari semua kalangan yang bersifat membangun guna
kesempurnaan makalah kami selanjutnya.
Akhir kata, kami ucapkan
terima kasih kepada semua pihak yang telah berperan serta dalam penyusunan
makalah ini dari awal sampai akhir. Serta kami berharap agar makalah ini dapat
bermanfaat bagi semua kalangan.
Amin..
Yogyakarta, 27 September 2014
Penulis
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL................................................................................................ i
KATA PENGANTAR............................................................................................. ii
DAFTAR ISI........................................................................................................... iii
BAB I : PENDAHULUAN........................................................................ ........ 1
A.
Latar Belakang.................................................................................................... 1
B.
Rumusan Masalah............................................................................................... 2
C.
Tujuan Penulisan................................................................................................. 2
BAB II : PEMBAHASA...................................................................................... 3
A.
.................................................................................................................... 3
B.
.................................................................................................................... 3
C.
.................................................................................................................... 5
D.
.................................................................................................................... 7
E.
................................................................................................................... 11
BAB III :...................................................................................................... PENUTUP 13
A.
Kesimpulan.......................................................................................................... 13
DAFTAR PUSTAKA............................................................................................... 14
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang
Penyusunan program pembelajaran akan bermuara pada
persiapan mengajar, sebagai produk program pembelajaran jangka pendek yang
mencakup komponen kegiatan belajar dan proses pelaksanaan program. Terkadang
pendidik dalam proses pelaksanaan program pembelajaran, pendidik kurang dapat
menyampaikan materi yang disampaikan secara jelas dan teratur karena kurangnya
kesiapan mereka dalam mengajar dan masih kurangnya komponen pembelajaran
sehingga pembelajaran dinilai kurang efektif.
Cynthia dalam Mulyasa (2004:82) mengemukakan bahwa
proses pembelajaran yang dimulai dengan fase persiapan mengajar ketika
kompetensi dan metodologi telah diidentifikasi, akan membantu guru dalam
mengorganisasikan materi standar serta mengantisipasi peserta didik dan masalah-masalah
yang mungkin timbul dalam pembelajaran. Sebaliknya, tanpa persiapan mengajar,
seorang guru akan mengalami hambatan dalam proses pembelajaran yang
dilakukannya.
Agar guru dapat membuat persiapan mengajar yang
efektif dan berhasil guna, dituntut untuk memahami berbagai aspek yang
berkaitan dengan pengembangan persiapan mengajar, baik berkaitan dengan
hakikat, fungsi, prinsip maupun prosedur pengembangan persiapan mengajar, serta
mengukur efektifitas mengajar.
Oleh karena itu, kami mempersiapkan makalah ini guna
lebih mengenalkan dan memberikan paparan mengenai komponen-komponen
pembelajaran agar pembaca lebih memahami dan siap dalam melakukan proses
pembelajaran dengan efektif.
B.
Rumusan
Masalah
1.
Apa konsep dasar komponen-komponen pembelajaran?
2.
Apa komponen peserta didik?
3.
Apa komponen pendidik?
4.
Apa komponen tujuan?
5.
Apa komponen bahan/ materi?
C.
Tujuan
1.
Mengetahui konsep dasar komponen-komponen
pembelajaran.
2.
Mengetahui komponen peserta didik.
3.
Mengetahui komponen pendidik.
4.
Mengetahui komponen tujuan.
5.
Mengetahui komponen bahan/ materi.
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Konsep Dasar Komponen-Komponen Pembelajaran
Pengajaran adalah suatu
sistem artinya keseluruhan yang terdiri dari komponen-komponen yang
berinteraksi antara satu dengan yang lainnya secara keseluruhan untuk mencapai
tujuan pengajaran yang telah ditetapkan sebelumnya. Komponen merupakan bagian
dari suatu sistem yang memiliki peran dalam keseluruhan berlangsungnya suatu
proses untuk mencapai tujuan sistem. Jadi, komponen pendidikan adalah
bagian-bagian dari sistem proses pendidikan yang menentukan berhasil atau
tidaknya proses pendidikan (Slameto, 2010).
Adapun
lomponen-komponen tersebut meliputi :
1. Tujuan pendidikan
2. Peserta didik
3. Pendidik
4. Bahan atau materi pelajaran
5. Pendekatan dan metode
6. Media atau alat
7. Sumber belajar
8. Evaluasi
Semua komponen dalam sistem pengajaran saling berhubungan
dan saling mempengaruhi untuk mencapai tujuan pengajaran. Pada dasarnya, proses
pengajaran dapat terselenggara secara lancar, efisien, dan efektif berkat
adanya interaksi yang positif, konstruktif, dan produktif antara berbagai
komponen yang terkandung di dalam sistem pengajaran tersebut.
B.
Komponen Peserta Didik
Peserta didik adalah salah
satu komponen dalam pengajaran, di samping faktor pendidik, tujuan, dan metode
pengajaran. Sebagai salah satu komponen maka dapat dikatakan bahwa peserta
didik adalah komponen yang terpenting diantara kelompok lainnya. Pada dasarnya
peserta didik adalah unsur penentu dalam proses belajar mengajar. Tanpa adanya
peserta didik, sesungguhnya tidak akan terjadi proses pengajaran. Sebab peserta
didiklah yang membutuhkan pengajaran dan bukan pendidik, pendidik hanya
berusaha memenuhi kebutuhan yang ada pada peserta didik. Tanpa adanya peserta
didik, pendidik tak akan mungkin mengajar. Sehingga peserta didik adalah
komponen yang penting dalam hubungan proses belajar mengajar ini.
1. Peserta
didik adalah pribadi yang kompleks
J. Looke berpandangan bahwa
jiwa anak bagaikan tabu rasa, sebuah meja lilin yang dapat ditulis dengan apa
saja bagaimana keinginan si pendidik. J.J. Rousseau memandang anak sebagai
seseorang yang memiliki jiwa yang bersih dan karena lingkungan maka ia jadi
kotor.
Berbeda dengan pandangan di
atas maka menurut psikologi modern, anak adalah suatu organisme yang hidup,
yang mereaksi, berbuat, dan sebagainya. Organisme yang hidup memiliki suatu
kebutuhan, minat, kemampuan, dan masalah-masalah tertentu. Ia bersifat unik,
memiliki bakat dan kematangan berkat adanya pengaruh-pengaruh dari luar,
sehingga membentuk pribadi anak menjadi kompleks.
2. Tujuan
mengenal peserta didik
Pendidik mengenal peserta
didik dengan maksud agar pendidik dapat membantu pertumbuhan dan
perkembangannya secara efektif. Mengenal dan memahami peserta didik sangat
penting agar pendidik dapat menentukan bahan-bahan yang akan diberikan,
menggunakan prosedur belajar yang serasi, mengadakan diagnosis atas kesulitan.
Banyak aspek dari pribadi
peserta didik yang perlu dikenal, namun demi mempermudah studi dalam hal ini
maka aspek-aspek tersebut diklasifikasikan sebagai berikut:
a. Latar belakang masyarakat
Kultur masyarakat dimana
peserta didik tinggal, besar pengaruhnya terhadap sikap peserta didik. Latar
belakang kultur ini menyebabkan para peserta didik memiliki sikap yang
berbeda-beda tentang agama, politik, masyarakat lain, dan cara bertingkah
lakunya.
b. Latar belakang keluarga
Situasi di dalam keluarga,
besar pengaruhnya terhadap emosi, penyesuaian sosial, minat, sikap, tujuan,
disiplin, dan perbuatan peserta didik di sekolah. Semua masalah apapun yang ada
di dalam keluarga akan berpengaruh terhadap sikap, tujuan, dan tingkah laku
peserta didik di sekolah. Sehingga pendidik sering mengalami kesulitan untuk
memahaminya. Pendidik perlu mengenal situasi dan kondisi dalam keluarga peserta
didik, agar dapat merencanakan kegiatan-kegiatan yang serasi.
c. Tingkat inteligensi
Inteligensi seseorang
dipengaruhi oleh perasaan dorongan, rasa aman dan sebagainya. Faktor lingkungan
yang berpengaruh terhadap kematangan daripada IQ. Tingkat inteligensi dapat
digunakan untuk memperkirakan keberhasilan seorang peserta didik.
d. Hasil belajar
Pendidik perlu mengenal hasil
belajar dan kemajuan belajar peserta didik yang telah diperoleh sebelumnya. Hal
yang perlu diketahui itu ialah penguasaan pelajaran dan keterampilan belajar.
Dengan pengenalan tersebut pendidik dapat mendiagnosis kesulitan belajar
peserta didik, dapat memperkirakan hasil dan kemajuan hasil belajar
selanjutnya.
e. Kesehatan badan
Keadaan kesehatan dan
pertumbuhan ini besar pengaruhnya terhadap hasil pendidikan dan penyesuaian
sosial mereka. Kalau pendidik mengenal data yang lengkap tentang kesehatan dan
pertumbuhan jasmaninya maka pendidik dapat memikirkan dan mengusahakan
pemberian bantuan kepada mereka seperti: memperbaiki prosedur mengajar,
mengatur tempat duduk, memberikan bantuan seperlunya.
f. Hubungan-hubungan
antarpribadi
Hubungan-hubungan pribadi
saling aksi dan mereaksi, penerimaan oleh anggota kelompok, kerja sama dengan
teman-teman sekelompok akan menentukan perasaan puas dan rasa aman di sekolah.
Hal-hal ini sangat berpengaruh pada kelakuan dan motivasi belajarnya. Kalau
pendidik mengetahui tentang kebutuhan sosial di kalangan peserta didik maka
pendidik dapat menyelidiki masalah-masalah yang dihadapi peserta didik.
g. Kebutuhan-kebutuhan emosional
Di antara kebutuhan emosional
yang penting di kalangan para peserta didik pada umumnya, ialah ingin
diterima (acceptance), berteman/ mencintai (affection),
dan rasa aman (security). Kebutuhan ini perlu mendapat kepuasan,
dan apabila tidak berhasil memberikan kepuasan atas kebutuhan-kebutuhan
tersebut maka ia akan menimbulkan frustasi dan gangguan mental lainnya. Dengan
mengenal kondisi emosional peserta didik, pendidik dapat memberikan bimbingan
yang diperlukan dan berusaha memelihara sifat-sifat pribadi yang baik, guna
menjamin stabilitas emosional para peserta didik.
h. Sifat kepribadian
Pendidik perlu mengenal
sifat-sifat kepribadian peserta didik agar pendidik mudah mengadakan pendekatan
pribadi dengan mereka. Dengan demikian, hubungan pribadi menjadi lebih dekat
dan akan mendorong pengajaran lebih efektif.
i.
Bermacam-macam
minat belajar
Pendidik perlu sekali
mengenal minat-minat peserta didiknya, karena ini penting bagi pendidik untuk
memilih bahan pelajaran, merencanakan pengalaman-pengalaman belajar, menuntun
mereka kearah pengetahuan, dan untuk mendorong motivasi belajar mereka.
3. Cara
dan alat untuk mengenal peserta didik
Untuk mengenal peserta didik,
pendidik dapat menggunakan bermacam-macam alat. Dalam uraian berikut ini dapat
kita tinjau alat-alat untuk mengenal peserta didik:
a. Cumulative record
Sistem cumulative
record berisikan banyak macam keterangan tentang peserta didik. Bentuk
catatan itu ada bermacam-macam, ada yang menggunakan sistem kartu ukuran 3 X 5
dengan sebanyak 8 pertanyaan, ada juga dengan menggunakan folder (10 X 6) yang
di dalamnya terdapat sejumlah kartu dan sejumlah pertanyaan.
b. Anecdotal records
Anecdotal records ialah catatan tertulis
tentang satu atau lebih observasi-observasi pendidik terhadap kelakuan dan
reaksi-reaksi peserta didik dalam berbagai situasi. Catatan ini dibuat sekali atau
dua kali dalam seminggu selama setahun, catatan ini meliputi keterangan yang
diperoleh melalui percakapan informal antara pendidik dan peserta didik.
c. Percakapan-percakapan dan
wawancara informal
Dalam percakapan secara
informal dengan peserta didik sebelum masuk sekolah, dalam waktu istirahat dan
waktu-waktu lainnya, pendidik dapat mengarahkan pokok pembicaraan untuk
mengungkapkan minat, reaksinya terhadap sekolah, pengalaman-pengalaman yang
didapat di luar sekolah, motivasi, dan aspirasi mereka. Selain dari itu,
pendidik juga mengadakan wawancara secara informal dengan setiap peserta didik
guna mengetahui segala sesuatu tentang pribadi peserta didik.
d. Observasi
Pendidik dapat menggunakan
setiap kesempatan yang ada setiap hari untuk mengamati tingkah laku peserta
didiknya. Melalui observasi yang terus-menerus, pendidik dapat memperoleh
tentang abilitas, sikapnya terhadap kegiatan-kegiatan sekolah, partisipasinya
terhadap berbagai kegiatan, hubungan antara peserta didik dalam berbagai
kelompok.
e. Angket
Angket terdiri dari sejumlah
pertanyaan tertulis yang disampaikan kepada peserta didik untuk mendapatkan
jawaban yang tertulis. Melalui angket, pendidik dapat mengenal tentang minat,
masalah kebutuhan, kecemasan, ambisi anak, dan sebagainya.
f. Diskusi informal
Para peserta didik mengadakan
diskusi secara informal, dan pendidik mendengarkannya. Dalam diskusi ini setiap
peserta didik bebas mengemukakan pengalaman-pengalaman dan hal-hal yang telah
diamatinya. Diskusi dilaksanakan secara informal penuh persahabatan, saling
memberi dan menerima.
g. Tes
Tes tertulis, baik yang
dibuat oleh pendidik maupun tes yang telah disusun oleh para ahli atau lembaga
tertentu, pendidik dapat mengetahui tentang hasil pendidikan para peserta
didik, tingkat inteligensi, sifat-sifat kepribadian, sikap dan abilitas peserta
didik.
h. Projective techniques
Dengan teknik ini akan
menyebabkan peserta didik mengekspresikan atau memproyeksikan minat, keinginan,
sikap, dan pendapatnya. Dengan menggunakan alat tersebut pendidik akan
memperoleh sejumlah data tentang pribadi peserta didik.
i.
Sosiometri
Tes sosiometri digunakan
untuk memperoleh gambaran tentang hubungan antara pribadi peserta didik atau
hubungan sosial diantara peserta didik di dalam satu kelas. Hasil dari
sosiometri pada sosiologi disebut sosiogram. Sosiogram menunjukkan hubungan
antara anggota di dalam suatu kelas/ kelompok, tetapi tidak menjelaskan mengapa
terjadi hubungan itu.
j.
Konferensi
antara orang tua dan pendidik
Dalam kesempatan mengunjungi
orang tua peserta didik dan mengadakan pertemuan dengan orang tua peserta didik
tersebut untuk melaporkan kemajuan belajar peserta didik maka pendidik
sebaiknya menggunakan kesempatan itu untuk mempelajari situasi keluarganya.
k. Studi kasus
Dengan studi kasus, pendidik
dapat menghimpun banyak informasi tentang seorang peserta didik dari berbagai
sumber di dalam satu kesatuan pola. Manfaatnya ialah pendidik dapat memahami
peserta didik secara menyeluruh dari individu peserta didik. Dengan demikian,
pola perkembangan peserta didik juga dapat diamati secara kontinu.
4. Pertumbuhan
dan perkembangan peserta didik
Pendidik yang efektif perlu
memahami pertumbuhan dan perkembangan peserta didik secara komprehensif.
Pemahaman ini akan memudahkan pendidik untuk menilai kebutuhan peserta didik
dan merencanakan tujuan, bahan, prosedur belajar mengajar dengan tepat.
Konsep-konsep dasar tentang
perkembangan peserta didik
a. PertumbuhanPertumbuhan ialah
pertumbuhan secara kuantitatif dari substansi atau struktur yang umumnya
ditandai dengan perubahan-perubahan biologis pada diri seseorang yang menuju
kearah kematangan. Pertumbuhan organisme ini bersumber dari bakat dan pengaruh
lingkungan. Pada umumnya peranan bakat lebih menonjol jika dibandingkan dengan
peranan pengaruh lingkungan.
b. Kematangan dan
MaturasiKematangan adalah tingkat atau keadaan yang harus dicapai dalam proses
perkembangan perorangan sebelum ia dapat melakukan sebagaimana mestinya pada
bermacam-macam tingkat pertumbuhan mental, fisik, sosial, dan emosional.
Kedewasaan (maturation) ialah kemajuan pertumbuhan yang normal kearah
kematangan. Proses maturasi disebabkan oleh faktor pertumbuhan dari dalam pada
berbagai kapasitas dan struktur.
c. PerkembanganPerkembangan
menggambarkan perubahan kualitas dan abilitas dalam diri seseorang, yakni
adanya perubahan dalam struktur, kapasitas, fungsi, dan efisiensi. Perkembangan
itu bersifat keseluruhan, misalnya perkembangan intelektual, emosional,
spiritual. Perkembangan umumnya berjalan lambat, karena itu pendidik harus
memperhatikan dengan teliti, jangan hanya melihat pertumbuhan fisiknya saja,
karena belum tentu sejalan dengan perkembangan dalam segi-segi mental,
emosionalnya, dan sebagainya.
d. Perkembangan NormalPengertian
perkembangan ini dapat ditinjau dari dua segi. Pertama perkembangan normal
dilihat dari segi pola perkembangan individu peserta didik. Perkembangan ini
berbeda untuk setiap individu.Kedua perkembangan normal dilihat dari segi usia
kronologis. Tingkat usia peserta didik dijadikan dasar untuk menentukan normal
atau tidaknya perkembangan seorang peserta didik.
5. Prinsip-prinsip
pertumbuhan dan perkembangan
Di antara prinsip-prinsip
pertumbuhan dan perkembangan yang penting ialah sebagai berikut:
a. Belajar ialah mengalami.
b. Belajar menunjukkan adanya
perubahan kelakuan dan sikap.
c. Kesiapan untuk sesuatu tugas
belajar ditentukan oleh pertumbuhan peserta didik secara keseluruhan.
d. Tiap-tiap komponen (sifat)
mental, fisik, sosial, emosional perkembangan dengan rute yang berlainan.
Masing-masing memiliki keunikan tersendiri.
e. Para peserta didik itu
bermacam-macam, baik dalam hal perkembangan dalam dirinya maupun dilihat dari
norma -norma yang ada.
f. Setiap peserta didik memiliki
keunikan dalam pola perkembangannya.
g. Seorang peserta didik akan
menyerap pengaruh lingkungannya dan demikian ia memperoleh pengalaman dan
persiapan.
h. Proses pertumbuhan dan
perkembangan berlangsung secara beruntun menurut pola tertentu.
i.
Pertumbuhan
dalam diri seseorang berjalan secara kontinu.
j.
Reaksi-reaksi
emosional kerapkali dipengaruhi oleh perkembangan motorik.
6. Kebutuhan-kebutuhan
peserta didik
Dalam tahap-tahap
perkembangan peserta didik, dan satu aspek yang paling menonjol ialah adanya
bermacam ragam kebutuhan yang meminta kepuasan. Beberapa ahli telah mengadakan
analisis tentang jenis-jenis kebutuhan peserta didik, antara lain:
a. Prescott, mengadakan klasifikasi
kebutuhan sebagai berikut:
1) Kebutuhan fisiologis :
bahan-bahan dan keadaan yang esensial, kegiatan dan istirahat.
2) Kebututuhan-kebutuhan sosial
atau status: menerima dan diterima, dan menyukai orang lain.
3) Kebutuhan-kebutuhan ego atau
integratif: kontak dengan kenyataan, , menambah kematangan diri sendiri,
keseimbangan antara berhasil dan gagal, menemukan individualitasnya sendiri.
b. Maslow menyatakan bahwa
kebutuhan-kebutuhan psikologis akan timbul setelah kebutuhan-kebutuhan
psikologis terpenuhi. Ia mengadakan klasifikasi kebutuhan dasar sebagai
berikut:
1) Kebutuhan akan keselamatan
2) Kebutuhan memiliki dan
mencintai
3) Kebutuhan akan penghargaan
4) Kebutuhan untuk menonjolkan
diri
C.
Komponen Pendidik
Sebelum memulai tugasnya,
pendidik harus terlebih dahulu mempelajari kurikulum sekolah itu dan
memahami program pendidikan yang sedang dilaksanakan. Setiap akan mengajar,
pendidik perlu membuat persiapan mengajar dalam rangka melaksanakan sebagian
dari rencana bulanan dan rencana tahunan. Karena itu harus memahami benar
tentang tujuan pengajaran, cara merumuskan tujuan mengajar, secara khusus
memilih dan menentukan metode mengajar sesuai dengan tujuan yang hendak
dicapai, memahami bahan pelajaran sebaik mungkin dengan menggunakan berbagai
sumber, cara memilih, menentukan dan menggunakan alat peraga, cara membuat tes
dan menggunakannya, dan pengetahuan tentang alat-alat evaluasi lainnya.
Dengan melaksanakan tugasnya,
ia perlu mengadakan kerja sama dengan orang tua peserta didik, dengan
badan-badan kemasyarakatan dan sekali-sekali membawa peserta didik mengunjungi
objek-objek yang kiranya perlu diketahui peserta didik.
1. Peranan
pendidik
Pandangan modern seperti yang
dikemukakan oleh Adams dan Dickey bahwa peran pendidik sesungguhnya sangat
luas, meliputi:
a. Pendidik sebagai pengajar
Pendidik bertugas memberikan
pengajaran di dalam kelas. Ia menyampaikan pelajaran agar peserta didik
memahami dengan baik semua pengetahuan yang telah disampaikan itu. Selain itu
ia juga berusaha agar terjadi perubahan sikap, keterampilan, kebiasaan,
hubungan sosial, apresiasi, dan sebagainya melalui pengajaran yang
diberikannya.
b. Pendidik sebagai pembimbing
Pendidik berkewajiban
memberikan bantuan kepada peserta didik agar mereka mampu menemukan masalahnya
sendiri, memecahkan masalahnya sendiri, mengenal dirinya sendiri, dan
menyesuaikan diri dengan lingkungannya. Pendidik perlu memahami dengan baik
tentang teknik bimbingan kelompok, penyuluhan individual, teknik mengumpulkan
keterangan, teknik evaluasi, statistik penelitian, psikologi kepribadian, dan
psikologi belajar.
c. Pendidik sebagai pemimpin
Pendidik berkewajiban
mengadakan supervisi atas kegiatan belajar peserta didik, membuat rencana
pengajaran bagi kelasnya, mengadakan manajemen belajar sebaik-baiknya,
melakukan manajemen kelas, mengatur disiplin kelas secara demokratis. Pendidik
harus punya jiwa kepemimpinan yang baik, seperti hubungan sosial, kemampuan
berkomunikasi, ketenagaan, ketabahan, humor, tegas, dan bijaksana.
d. Pendidik sebagai ilmuwan
Pendidik dipandang sebagai
orang yang berpengetahuan. Dia bukan saja berkewajiban menyampaikan pengetahuan
yang dimilikinya kepada peserta didik, tetapi juga berkewajiban mengembangkan
pengetahuan itu dan terus-menerus memupuk pengetahuan yang telah dimilikinya.
e. Pendidik sebagai pribadi
Sebagai pribadi setiap
pendidik harus memiliki sifat-sifat yang disenangi oleh peserta didiknya, oleh
orang tua, dan oleh masyarakat. Sifat-sifat itu sangat diperlukan agar ia dapat
melaksanakan pengajaran secara efektif.
f. Pendidik sebagai
penghubungSekolah berdiri diantara dua lapangan, yakni satu pihak mengemban
tugas menyampaikan dan mewariskan ilmu, teknologi, dan kebudayaan yang terus
menerus berkembang dengan lajunya, dan di pihak lain bertugas menampung
aspirasi, masalah, kebutuhan, minat, dan tuntutan masyarakat. Di antara kedua
lapangan inilah pendidik memegang peranannya sebagai pelaksana.
g. Pendidik sebagai pembaharu
Pendidik memegang peranan
sebagai pembaharu, oleh karena melalui kegiatan pendidik penyampaian ilmu dan
teknologi, contoh-contoh yang baik dan lain-lain maka akan menanamkan jiwa
pembaruan di kalangan peserta didik.
h. Pendidik sebagai pembangunan
Sekolah turut serta
memperbaiki masyarakat dengan jalan memecahkan masalah-masalah yang dihadapi
oleh masyarakat dan dengan turut melakukan kegiatan-kegiatan pembangunan
yang sedang dilaksanakan oleh masyarakat itu. Pendidik baik secara pribadi dan
professional dapat menggunakan setiap kesempatan yang ada untuk membantu
berhasilnya rencana pembangunan masyarakat. Partisipasinya di dalam masyarakat
akan turut mendorong masyarakat lebih bergairah untuk membangun.
2. Tanggung
Jawab Pendidik
a. Pendidik harus membantu
peserta didik belajar
Tanggung jawab pendidik yang
terpenting ialah merencanakan dan membantu peserta didik melakukan
kegiatan-kegiatan belajar guna mencapai pertumbuhan dan perkembangan yang
diinginkan. Pendidik harus membimbing peserta didik agar mereka memperoleh
keterampilan-keterampilan, pemahaman, perkembangan berbagai kemampuan,
kebiasaan-kebiasaan yang baik, dan perkembangan sikap yang serasi.
b. Turut serta membina kurikulum
sekolah
Sesungguhnya pendidik
merupakan seorang key person yang paling mengetahui tentang
kebutuhan kurikulum yang sesuai dengan tingkat perkembangan peserta didik.
Karena itu, sewajarnya apabila dia turut aktif dalam pembinaan kurikulum di
sekolahnya. Akan lebih baik pula apabila pendidik melakukan langkah-langkah
tertentu dalam penilaian terhadap buku-buku pelajaran yang sedang digunakan.
c. Melakukan pembinaan terhadap
diri peserta didik (kepribadian, watak dan jasmaniah)
Mengembangkan watak dan
kepribadian peserta didik sehingga mereka memiliki kebiasaan, sikap, cita-cita,
berpikir dan berbuat, berani dan bertanggungjawab, ramah dan mau bekerja sama,
bertindak atas dasar nilai-nilai moral yang tinggi, semuanya menjadi tanggung
jawab pendidik agar aspek-aspek kepribadian ini dapat berkembang maka pendidik
perlu menyediakan kesempatan kepada peserta didik untuk mengalami, menghayati
situasi-situasi yang hidup dan nyata. Selain itu, kepribadian, watak, dan
tingkah laku pendidik sendiri akan menjadi contoh konkret bagi peserta didik.
d. Memberikan bimbingan kepada
peserta didik
Bimbingan kepada peserta
didik agar mereka mampu mengenal dirinya sendiri, memecahkan masalahnya
sendiri, mampu menghadapi kenyataan dan memiliki stamina emosional yang baik,
sangat diperlukan. Mereka perlu dibimbing kearah terciptanya hubungan pribadi
yang baik dengan temannya dimana perbuatan dan perkataan pendidik dapat menjad
contoh yang hidup. Karena itu pendidik harus memahami benar tentang masalah
bimbingan belajar, bimbingan pendidikan, bimbingan pribadi, dan terampil dalam
memberikan penyuluhan yang tepat.
e. Melakukan diagnosis atas
kesulitan-kesulitan belajar dan mengadakan penilaian atas kemajuan belajar
Pendidik bertanggung jawab
menyesuaikan semua situasi belajar dengan minat, latar belakang, dan kematangan
peserta didik. Juga bertanggung jawab mengadakan evaluasi terhadap hasil
belajar dan kemajuan belajar serta melakukan diagnosis dengan cermat terhadap
kesulitan dan kebutuhan peserta didik.
f. Mengenal masyarakat dan ikut
serta aktif
Pendidik tak mungkin
melaksanakan pekerjaannya secara efektif, jika ia tidak mengenal masyarakat
seutuhnya dan secara lengkap. Harus dipahami dengan baik tentang pola
kehidupan, kebudayaan, minat dan kebutuhan masyarakat, karena perkembangan
sikap, minat, aspirasi anak sangat banyak dipengaruhi oleh masyarakat
sekitarnya. Ini berarti bahwa dengan mengenal masyarakat, pendidik dapat
mengenal peserta didik dan menyesuaikan pelajarannya secara efektif. Pendidik
sebaiknya turut aktif dalam kegiatan-kegiatan yang ada dalam masyarakat.
Apabila hal ini dikerjakan maka pendidik akan mendapat peluang yang baik untuk
menjelaskan tentang keadaan sekolah kepada masyarakat itu, sehingga mendorong
masyarakat untuk turut memikirkan kemajuan pendidikan anak-anak mereka.
g. Turut serta membantu
terciptanya kesatuan dan persatuan bangsa dan perdamaian dunia
Pendidik bertanggung jawab
untuk mempersiapkan peserta didik menjadi warga Negara yang baik, yang memiliki
rasa persatuan dan kesatuan sebagai bangsa. Perasaan demikian dapat tercipta
apabila para peserta didik didik saling menghargai, mengenal daerah,
masyarakat, adat istiadat, seni budaya, sikap, hubungan-hubungan sosial,
keyakinan, kepercayaan dan peninggalan-peninggalan historis setempat, keinginan,
dan minat daerah-daerah lainnya di seluruh Nusantara. Dengan pengenalan,
pemahaman yang cermat maka akan tumbuh rasa persatuan dan kesatuan bangsa.
h. Turut menyukseskan
pembangunan
Pembangunan adalah cara yang
paling tepat guna membawa masyarakat ke arah kesejahteraan dan kemakmuran
bangsa. Pembangunan itu meliputi pembangunan dalam bidang mental spiritual dan
bidang fisik materiil. Turut serta dalam kegiatan-kegiatan pembangunan yang
sedang berlangsung di dalam masyarakat termasuk tanggung jawab pendidik yang
efektif.
i.
Tanggung
jawab meningkatkan peranan profesional pendidik
Tanpa adanya kecakapan yang
maksimal yang dimiliki oleh pendidik, maka kiranya sulit bagi pendidik tersebut
mengemban dan melaksanakan tanggung jawabnya dengan cara yang sebaik-baiknya. Peningkatan
kemampuan itu meliputi kemampuan untuk melaksanakan tanggung jawab dalam
melaksanakan tugas-tugas di dalam sekolah dan kemampuan yang diperlukan untuk
merealisasikan tanggung jawabnya di luar sekolah. Kemampuan itu harus dipupuk
dalam diri pribadi pendidik sejak ia mengikuti pendidikan pendidik sampai ia
bekerja.
3. Tuntutan
Pendidik
Pendidik yang dapat berperan
sebagai pembimbing yang tidak menimbulkan pertentangan:
a. Mengajar mata pelajaran,
yaitu pendidik yang :
1) Dapat menimbulkan minat dan
semangat belajar peserta didik melalui mata pelajaran yang diajarkannya
2) Memiliki kecakapan untuk
memimpin
3) Dapat menghubungkan materi
pelajaran dengan contoh-contoh praktis.
b. Hubungan peserta didik dengan
pendidik yaitu pendidik yang:
1) Dicari oleh peserta didik untuk
memperoleh nasihat dan bantuan
2) Mencari kontak denga peserta
didik di luar kelas
3) Memiliki minat dalam
pelayanan sosial
4) Membuat kontak dengan orang
tua peserta didik
c. Hubungan pendidik dengan
pendidik, yaitu pendidik yang:
1) Menunjukkan kecakapan bekerja
sama dengan pendidik lain
2) Tidak menimbulkan
pertentangan
3) Menunjukkan kecakapan untuk
berdiri sendiri
4) Menunjukkan kepemimpinan yang
baik dan tidak mementingkan diri sendiri
d. Pencatatan dan penelitian,
yaitu pendidik yang:
1) Mempunyai sikap ilmiah
objektif
2) Lebih suka mengukur dan tidak
menebak
3) Berminat dalam
masalah-masalah penelitian
4) Efisien dalam
pekerjaan-pekerjaan tulis-menulis
5) Melihat kesempatan untuk
penelitian dalam kegiatan tulis menulis
e. Sikap professional, yaitu
pendidik yang:
1) Sukarela untuk melakukan pekerjaan
ekstra
2) Telah menunjukkan dapat
menyesuaikan diri dan sabar
3) Memiliki sikap yang
konstruktif dan rasa tanggung jawab
4) Berkemauan untuk melatih diri
5) Memiliki semangat untuk
memberikan layanan kepada peserta didik, sekolah dan masyarakat
D.
Komponen Tujuan
Tujuan adalah suatu cita-cita
yang ingin dicapai dari pelaksanaan suatu kegiatan. Tidak ada suatu kegiatan
yang diprogamkan tanpa tujuan, karena hal itu adalah suatu hal yang tidak
memiliki kepastian dalam menentukan ke arah mana kegiatan itu akan dibawa. Sebagai
unsur penting untuk suatu kegiatan, maka dalam kegiatan apapun tujuan tidak
bisa diabaikan. Demikian juga halnya dalam kegiatan belajar mengajar, tujuan
adalah suatu cita-cita yang dicapai dalam kegiatannya. Tujuan merupakan
komponen yang dapat mempengaruhi komponen pengajaran lainnya seperti: bahan
pelajaran, kegiatan belajar mengajar, pemilihan metode, alat, sumber dan
evaluasi. Semua komponen itu harus bersesuaian dan didayagunakan untuk mencapai
tujuan seefektif dan seefisien mungkin. Bila salah satu komponen tidak sesuai
dengan tujuan, maka pelaksanaan kegiatan belajar mengajar tidak akan dapat
mencapai tujuan yang telah ditetapkan.
Tujuan memiliki nilai yang
sangat penting di dalam pengajaran. Bahkan barangkali dapat dikatakan bahwa
tujuan merupakan faktor yang terpenting dalam kegiatan dan proses belajar
mengajar. Nilai-nilai tujuan dalam pengajaran diantaranya adalah sebagai
berikut (Dimyati,dkk, 2009):
1. Tujuan pendidikan mengarahkan
dan membimbing kegiatan pendidik dan peserta didik dalam proses pengajaran;
2. Tujuan pendidikan memberikan
motivasi kepada pendidik dan peserta didik;
3. Tujuan pendidikan memberikan
pedoman dan petunjuk kepada pendidik dalam rangka memilih dan menentukan metode
mengajar atau menyediakan lingkungan belajar bagi peserta didik;
4. Tujuan pendidikan penting
maknanya dalam rangka memilih dan menentukan alat peraga pendidikan yang akan
digunakan; dan
5. Tujuan pendidikan penting
dalam menentukan alat/ teknik penilaian pendidik terhadap hasil beajar peserta
didik.
Ada
bermacam-macam tujuan pendidikan menurut M. J. Langeveld (Siswoyo, 2007: 26),
yaitu:
1. Tujuan umum
Tujuan umum adalah tujuan
paling akhir dan merupakan keseluruhan/ kebulatan tujuan yang ingin dicapai
oleh pendidikan. Bagi Langeveld tujuan umum atau tujuan akhir, akhirnya adalah
kedewasaan, yang salah asatu cirinya adalah tetap hidup dengan pribadi mandiri.
Dan menurut Hoogveld (Soekarlan, 1969: 29) mendidik itu berarti membantu
manusia agar mampu menunaikan tugas hidupnya secara berdiri sendiri.
2. Tujuan khusus
Tujuan khusus adalah
pengkhususan tujuan umum atas dasar berbagai hal. Misalnya usia, jenis kelamin,
intelegensi, bakat, minat, lingkungan sosial budaya, tahap-tahap perkembangan,
tuntutan persyaratan pekerjaan dan sebagainya.
3. Tujuan tak lengkap
Tujuan tak lengkap adalah
tujuan yang hanya menyangkut sebagian aspek kehidupan manusia. Misalnya aspek
psikologis, biologis, sosiologis saja. Salah satu aspek psikologis misalnya
hanya mengembangkan emosi dan pikiran saja.
4. Tujuan sementara
Tujuan sementara adalah
tujuan yang hanya dimaksudkan untuk sementara saja, sedangkan kalau tujuan
sementara itu sudah tercapai maka ditinggalkan dan diganti dengan tujuan yang
lain. Misalnya: orang tua ingin agar anaknya berhenti merokok, dengan dikurangi
uang sakunya. Kalau sudah tidak merokok, lalu ditingalkan dan diganti dengan
tujuan lain misalnya agar tidak suka begadang.
5. Tujuan intermedier
Tujuan intermedier yaitu
tujuan perantara bagi tujuan lainnya yang pokok. Misalnya: anak yang dibiasakan
untuk menyapu halaman, maksudnya agar klak ia mempunyai rasa tanggung jawab.
Membiasakan mmbagi-bagi tugas pada anak satu dngan lainnya juga berarti melatih
tanggung jawab dengan maksud agar kelak mereka memiliki rasa tanggung jawab.
6. Tujuan incidental
Tujuan insidental yaitu tujuan yang dicapai pada saat-saat
tertentu, seketika atau spontan. Misalnya: pendidik menegur anak yang bermain
kasar ketika bermain sepak bola. Selain itu, orang tua yang menegur anaknya
untuk duduk dengan sopan.
Dalam
bukunya, Djamarah (2010: 42) mengatakan bahwa suatu tujuan pengajaran adalah
deskripsi tentang penampilan perilaku (performance) peserta
didik-peserta didik yang kita harapkan setelah mereka mempelajari bahan
pelajaran yang kita ajarkan. Suatu tujuan pengajaran mengatakan suatu hasil
yang kita harapkan dari pengajaran itu dan bukan sekedar suatu proses dari
pengajaran itu sendiri. Akhirnya, pendidik tidak bisa mengabaikan masalah
perumusan tujuan bila ingin memprogamkan pengajaran.
E.
Komponen Bahan/ Materi
Bahan pelajaran adalah
substansi yang akan disampaikan dalam proses belajar mengajar. Tanpa bahan
pelajaran proses belajar mengajar tidak akan berjalan. Karena itu, pendidik
yang akan mengajar pasti memiliki dan menguasai bahan pelajaran yang akan
disampaikannya pada anak didik. Ada dua persoalan dalam penguasaan bahan
pelajaran ini, yakni penguasaan bahan pelajaran pokok dan bahan pelajaran
pelengkap. Bahan pelajaran pokok adalah bahan pelajaran yang menyangkut bidang
studi yang dipegang pendidik sesuai dengan profesinya (disiplin keilmuannya).
Sedangkan bahan pelajaran pelengkap atau penunjang adalah bahan pelajaran yang
dapat membuka wawasan seorang pendidik agar dalam mengajar dapat menunjang
penyampaian bahan pelajaran pokok. Bahan penunjang ini biasanya bahan yang
terlepas dari disiplin keilmuan pendidik, tetapi dapat digunakan sebagai
penunjang dalam penyampaian bahan pelajaran pokok. Pemakaian bahan pelajaran
penunjang ini harus disesuaikan dengan bahan pelajaran pokok yang dipegang agar
dapat memberikan motivasi kepada sebagian besar atau semua anak didik.
Bahan pelajaran merupakan
unsur inti yang ada di dalam kegiatan belajar mengajar, karena memang bahan
pelajaran itulah yang diupayakan untuk dikuasai olek anak didik. Karena itu,
pendidik khususnya atau pengembang kurikulum umumnya, tidak boleh lupa harus memikirkan
sejauh mana bahan-bahan yang topiknya tertera dalam silabus berkaitan dengan
kebutuhan anak didik pada usia tertentu dan dalam lingkungan tertentu pula.
Minat anak didik akan bangkit bila suatu bahan diajarkan sesuai dengan
kebutuhan anak didik. Maslow berkeyakinan bahwa minat seseorang akan muncul
bila sesuatu itu terkait dengan kebutuhannya (Djamarah, 2010: 44). Jadi, bahan
pelajaran yang sesuai dengan kebutuhan anak didik akan memotivasi anak didik
dalam jangka waktu tertentu. Dengan demikian, bahan pelajaran merupakan
komponen yang tidak bisa diabaikan dalam pengajaran, sebab bahan adalah inti
dalam proses beajar mengajar yang akan disampaikan kepada anak didik.
BAB III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Pembelajaran adalah adanya interaksi. lnteraksi yang terjadi
antara si belajar dengan lingkungan belajarnya, baik itu dengan pendidik,
teman-temannya, tutor, media pembelajaran, dan atau sumber-sumber belajar yang
lain. Sedangkan ciri-ciri lainnya dari pembelajaran ini berkaitan dengan
komponen-komponen pembelajaran itu sendiri. Dimana di dalam pembelajaran akan
terdapat komponen-komponen sebagai berikut: tujuan pendidikan, peserta didik,
pendidik , bahan atau materi pelajaran, pendekatan dan metode, media atau alat,
sumber belajar serta, evaluasi. Semua komponen tersebut saling terkait atau
berhubungan untuk mewujudkan proses pembelajaran yang efektif dan efisien.
Komponen-komponen pembelajaran tersebut sebagai suatu sistem yang utuh dan
saling mendukung satu sama lain.
DAFTAR PUSTAKA
Dimyati,dkk. 2009. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta:
Rineka Cipta
Djamarah, Syaiful Bahri & Aswan Zain. 2010. Strategi
Belajar Mengajar. Jakarta: Rineka Cipta.
Hamalik, Oemar. 2004. Proses Belajar Mengajar. Jakarta:
Bumi Aksara.
Siswoyo, Dwi, dkk. 2007. Ilmu Pendidikan. Yogyakarta:
Universitas Negeri Yogyakarta Press.
Slameto. 2010. Belajar & Faktor-Faktor yang
Mempengaruhinya. Jakarta: Rineka Cipta.
Soekarlan, Endang. 1969. Pedagogik Umum. Yogyakarta:
FIP IKIP Yogyakarta.
Tambah
juga sumber dari internet yaaaaaa…….
Penulis.tahun.judul.alamat web diakses pada hari,tgl jam

Tidak ada komentar:
Posting Komentar